SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DAN PROGRES PROYEK KONSTRUKSI BERBASIS WEB MENGGUNAKAN METODE FDD PADA AR4N GROUP
Abstract
Pengelolaan administrasi proyek dan keuangan pada AR4N GROUP masih dilakukan secara manual menggunakan dokumen fisik dan Microsoft Excel yang terpisah, sehingga menyebabkan duplikasi data, ketidaksinkronan informasi, serta kesulitan dalam monitoring progres proyek dan pengendalian biaya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun Sistem Informasi Manajemen Akuntansi dan Progres Proyek Terintegrasi berbasis web yang mampu menghubungkan data proyek dan keuangan secara efektif. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah Feature Driven Development (FDD) dengan tahapan perencanaan model, pembangunan daftar fitur, perencanaan berdasarkan fitur, desain berdasarkan fitur, serta pembangunan berdasarkan fitur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dibangun mampu menyediakan pengelolaan data progres proyek, administrasi keuangan, laporan proyek, dan informasi akuntansi secara terintegrasi sesuai kebutuhan pengguna. Sistem ini membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan data, mengurangi kesalahan pencatatan, serta mendukung proses monitoring proyek secara lebih terstruktur. Simpulan penelitian ini adalah penerapan sistem informasi berbasis web dengan metode FDD dapat menjadi solusi dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan proyek dan akuntansi pada AR4N GROUP. Kata kunci: akuntansi; feature driven development; proyek konstruksi; sistem informasi; web
References
[1] . Maka disajikan diagram alur metode FDD sebagai berikut: Gambar 1. Feature Driven Development (FDD) Berdasarkan gambar 1, metode Feature Driven Development (FDD) terdiri dari lima tahapan utama yang dilakukan secara berurutan, yaitu Develop an Overall Model, Build a Feature List, Plan by Feature, Design by Feature, dan Build by Feature. Setiap tahapan memiliki peran penting dalam proses pengembangan sistem, mulai dari analisis kebutuhan hingga implementasi sistem. Pendekatan berbasis fitur pada metode FDD memungkinkan pengembangan sistem dilakukan secara terstruktur dan iteratif, sehingga kebutuhan pengguna dapat diterjemahkan secara sistematis ke dalam fitur-fitur fungsional yang dikembangkan
[2] . 1. Develop an Overall Model Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap sistem yang sedang berjalan serta identifikasi kebutuhan sistem yang akan dikembangkan. Hasil dari tahap ini berupa gambaran umum sistem. 2. Build a Feature List Tahap ini dilakukan dengan menyusun daftar fitur yang akan dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna, seperti fitur manajemen proyek, pencatatan keuangan, serta pelaporan. 3. Plan by Feature Pada tahap ini dilakukan perencanaan pengembangan sistem berdasarkan fitur yang telah ditentukan, termasuk penjadwalan dan pembagian tugas dalam proses pengembangan. 4. Design by Feature Tahap ini meliputi perancangan sistem untuk setiap fitur, seperti desain database, antarmuka pengguna, serta alur sistem. 5. Build by Feature Pada tahap ini dilakukan proses implementasi atau pembangunan sistem berdasarkan desain yang telah dibuat, serta dilakukan pengujian untuk memastikan sistem berjalan dengan baik. Setelah proses implementasi selesai, dilakukan pengujian sistem menggunakan metode Black Box Testing. Pengujian ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap fungsi pada sistem telah berjalan sesuai dengan kebutuhan fungsional tanpa melihat struktur atau kode program yang digunakan. Pengujian dilakukan dengan memberikan masukan (input) pada setiap fitur, kemudian membandingkan hasil keluaran (output) dengan hasil yang diharapkan berdasarkan spesifikasi sistem. Pengujian dilakukan oleh peneliti bersama pengguna yang mewakili setiap aktor sistem, yaitu Owner, Admin Keuangan, Project In Charge (PIC), Supervisor (SPV), dan Teknisi IT. Setiap aktor menguji fitur sesuai dengan hak aksesnya masing-masing. Skenario pengujian meliputi proses autentikasi pengguna, pengelolaan data proyek, pengelolaan supplier dan vendor, pencatatan kas proyek, pengelolaan stok material, pengajuan dana proyek, persetujuan transaksi, serta pembuatan laporan proyek dan laporan keuangan. Hasil pengujian dinyatakan berhasil apabila seluruh fungsi menghasilkan keluaran sesuai dengan kebutuhan sistem. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada AR4N Group, diketahui bahwa proses pengelolaan proyek konstruksi dan administrasi keuangan masih dilakukan secara manual menggunakan dokumen fisik dan Microsoft Excel. Proses pelaporan progres proyek dilakukan oleh Person In Charge (PIC) kepada owner melalui media komunikasi yang terpisah, sedangkan pencatatan transaksi keuangan dilakukan secara manual oleh bagian keuangan. Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan penyampaian informasi, potensi kesalahan pencatatan, duplikasi data, serta kesulitan dalam melakukan monitoring proyek dan pengendalian keuangan secara real time. Gambar 2. Flowchart Alur Kas Masuk Flowchart alur kas masuk menunjukkan proses pencatatan penerimaan dana yang berjalan pada perusahaan. Berdasarkan hasil analisis, proses pencatatan masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam proses rekapitulasi dan pelaporan. Selain itu, data transaksi yang tersimpan pada beberapa dokumen berbeda berpotensi menimbulkan inkonsistensi informasi apabila terjadi perubahan data atau kesalahan pencatatan. Gambar 3. Flowchart Alur Kas Keluar Flowchart alur kas keluar menggambarkan proses pengajuan, persetujuan, dan pencatatan pengeluaran dana proyek. Proses yang masih dilakukan secara manual menyebabkan proses verifikasi dan pelacakan riwayat transaksi menjadi kurang efektif. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya sistem terintegrasi yang mampu mengelola data proyek dan transaksi keuangan dalam satu platform sehingga informasi dapat diakses secara lebih cepat dan akurat. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, pengembangan sistem dilakukan menggunakan metode Feature Driven Development (FDD). Metode ini dipilih karena mampu mendukung pengembangan perangkat lunak yang memiliki banyak fitur dan melibatkan beberapa jenis pengguna dengan kebutuhan yang berbeda. Tahapan pengembangan dimulai dari identifikasi kebutuhan sistem, penyusunan daftar fitur, perencanaan pengembangan, perancangan sistem, hingga implementasi fitur secara bertahap sesuai kebutuhan pengguna. Hasil identifikasi kebutuhan menghasilkan beberapa fitur utama yang dibutuhkan oleh perusahaan, meliputi pengelolaan data proyek, monitoring progres pekerjaan, pengelolaan inventaris barang dan alat, pencatatan transaksi keuangan, pengajuan dana proyek, proses persetujuan pengajuan dana, serta penyusunan laporan keuangan. Seluruh fitur tersebut dirancang untuk mendukung proses bisnis perusahaan secara terintegrasi. Gambar 4. Use Case Diagram owner Gambar 5. Use Case Diagram kepala bagian keuangan Gambar 6. Use Case Diagram PIC Gambar 7. Use Case Diagram SPV Use case diagram gabungan menggambarkan interaksi seluruh aktor dalam sistem, yaitu Owner, Kepala Bagian Keuangan, Supervisor (SPV), dan PIC/Kepala Proyek. Masing-masing aktor memiliki hak akses dan tugas yang berbeda sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Owner berperan dalam melakukan pengawasan terhadap proyek, data master, dan laporan yang tersedia pada sistem. Kepala Bagian Keuangan bertanggung jawab mengelola transaksi keuangan, jurnal, kasbon, pinjaman karyawan, serta laporan keuangan. Supervisor bertugas mengelola data barang dan alat, kasbon tukang, serta pengajuan EAF. Sementara itu, PIC/Kepala Proyek berfokus pada pengelolaan data proyek, data perusahaan, dan pembaruan progres pekerjaan. Melalui sistem yang terintegrasi, seluruh data dapat diakses sesuai hak pengguna sehingga proses pengelolaan proyek dan keuangan menjadi lebih terstruktur, cepat, dan mudah dipantau oleh pihak yang berkepentingan. Gambar 8. Implementasi Dashboard Dashboard dirancang untuk menyajikan informasi penting yang berkaitan dengan aktivitas proyek dan kondisi keuangan perusahaan. Melalui dashboard, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai jumlah proyek aktif, progres pekerjaan, transaksi keuangan, dan informasi lainnya secara cepat tanpa harus membuka banyak menu. Penyajian informasi secara terpusat membantu meningkatkan efektivitas proses monitoring dan pengambilan keputusan. Gambar 9. Implementasi Jurnal Umum Modul jurnal umum digunakan untuk mencatat seluruh transaksi keuangan yang terjadi selama pelaksanaan proyek. Data transaksi yang tersimpan pada modul ini menjadi dasar dalam proses pembentukan laporan keuangan sehingga mampu mengurangi risiko kesalahan pencatatan yang sering terjadi pada proses manual. Gambar 10. Implementasi Data Proyek Modul data proyek digunakan untuk mengelola informasi proyek yang sedang berjalan. Seluruh data proyek tersimpan secara terpusat sehingga memudahkan pengguna dalam melakukan pencarian informasi dan monitoring perkembangan proyek. Gambar 11. Implementasi Neraca Lajur Modul neraca lajur digunakan untuk membantu proses penyusunan laporan keuangan perusahaan. Sistem secara otomatis mengolah data transaksi yang telah dicatat sehingga laporan dapat dihasilkan dengan lebih cepat dibandingkan proses penyusunan manual. Gambar 12. Implementasi Persetujuan EAF Fitur persetujuan EAF digunakan untuk mendukung proses pengajuan dana proyek. Melalui fitur ini, proses persetujuan dapat dilakukan secara digital sehingga mempercepat alur kerja serta memudahkan proses pelacakan riwayat pengajuan dan persetujuan. Untuk memastikan bahwa seluruh fungsi sistem berjalan sesuai dengan kebutuhan fungsional, dilakukan Black Box Testing terhadap seluruh modul utama sistem. Pengujian dilakukan oleh peneliti bersama lima orang pengguna yang mewakili setiap aktor sistem, yaitu Owner, Kepala Bagian Keuangan, Project In Charge (PIC), Supervisor (SPV), dan Teknisi IT. Setiap pengguna menguji fungsi sesuai hak akses yang dimiliki dengan menjalankan skenario yang telah disusun berdasarkan kebutuhan sistem. Pengujian difokuskan pada validasi masukan (input), proses sistem, serta keluaran (output) yang dihasilkan tanpa memperhatikan struktur kode program. Pengujian terdiri atas 20 skenario uji yang mencakup autentikasi pengguna, pengelolaan proyek, monitoring progres, inventaris, supplier, vendor, transaksi keuangan, jurnal umum, pengajuan dana (EAF), persetujuan dana, serta penyusunan laporan keuangan. Tabel 1. Hasil Pengujian Black Box Testing Berdasarkan hasil pengujian terhadap 20 skenario uji yang mencakup autentikasi pengguna, pengelolaan proyek, monitoring progres proyek, inventaris, pengajuan dana, transaksi keuangan, dan laporan keuangan, seluruh fitur menunjukkan hasil yang sesuai dengan kebutuhan fungsional yang telah ditentukan. Seluruh skenario pengujian memperoleh status berhasil sehingga tingkat keberhasilan pengujian mencapai 100%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem mampu menjalankan fungsi utama yang dibutuhkan oleh AR4N Group dalam mendukung proses pengelolaan proyek konstruksi dan administrasi keuangan secara terintegrasi. Untuk mengetahui dampak implementasi sistem terhadap proses bisnis perusahaan, dilakukan analisis perbandingan antara kondisi sebelum dan sesudah penerapan sistem informasi yang dikembangkan. Tabel 2. Analisis Dampak Implementasi Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, implementasi sistem memberikan peningkatan pada aspek efektivitas pengelolaan proyek dan administrasi keuangan. Integrasi data dalam satu basis data terpusat memungkinkan informasi proyek dan transaksi keuangan dapat diakses secara lebih cepat dan akurat. Selain itu, proses monitoring progres proyek yang sebelumnya dilakukan melalui komunikasi manual kini dapat dilakukan secara real time melalui sistem sehingga memudahkan manajemen dalam melakukan pengawasan dan pengambilan keputusan. Sistem juga mampu mengurangi proses pencatatan berulang karena data yang telah dimasukkan dapat digunakan oleh berbagai modul yang saling terintegrasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Putri dan Bobby yang menyatakan bahwa sistem informasi berbasis web dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan proyek konstruksi. Temuan penelitian ini juga mendukung penelitian Alawiyah dkk. yang menunjukkan bahwa sistem informasi manajemen proyek mampu meningkatkan kemampuan monitoring proyek secara lebih efektif. Perbedaannya, sistem yang dikembangkan pada penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan proyek, tetapi juga mengintegrasikan fungsi manajemen akuntansi, pengelolaan inventaris, dan proses persetujuan pengajuan dana dalam satu platform yang terpusat. Dari sisi metodologi, penggunaan Feature Driven Development terbukti mampu mendukung proses pengembangan sistem secara terstruktur melalui pendekatan berbasis fitur. Setiap fitur dapat dirancang, dibangun, dan diuji secara bertahap sehingga memudahkan pengendalian proses pengembangan dan memastikan kesesuaian sistem dengan kebutuhan pengguna. Sistem yang dikembangkan memiliki beberapa keunggulan, yaitu mampu mengintegrasikan data proyek dan data keuangan dalam satu platform, menyediakan informasi progres proyek secara real time, mempercepat proses pelaporan, serta mendukung pengendalian transaksi keuangan secara lebih terstruktur. Selain itu, pembagian hak akses berdasarkan peran pengguna membantu meningkatkan keamanan dan pengendalian data pada sistem. Meskipun demikian, sistem masih memiliki beberapa keterbatasan. Sistem masih bergantung pada ketersediaan koneksi internet sehingga akses sistem dapat terganggu apabila terjadi gangguan jaringan. Selain itu, sistem belum dilengkapi fitur notifikasi otomatis melalui email atau aplikasi pesan instan yang dapat mendukung proses monitoring dan persetujuan secara lebih cepat. Sistem juga belum terintegrasi dengan layanan perbankan atau payment gateway sehingga proses transaksi keuangan masih dilakukan di luar sistem. Keterbatasan tersebut dapat menjadi arah pengembangan pada penelitian selanjutnya untuk meningkatkan fungsionalitas dan nilai guna sistem yang telah dibangun. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, Sistem Informasi Progres Proyek Konstruksi dan Manajemen Akuntansi Berbasis Web berhasil dirancang dan diimplementasikan pada AR4N Group menggunakan metode Feature Driven Development (FDD). Sistem yang dikembangkan mampu mengintegrasikan enam modul utama, yaitu pengelolaan proyek, monitoring progres pekerjaan, pengelolaan inventaris, pengajuan dan persetujuan dana (EAF), pencatatan transaksi keuangan, serta penyusunan laporan keuangan dalam satu platform berbasis web. Integrasi tersebut mendukung proses pengelolaan proyek dan administrasi keuangan secara lebih terstruktur, terpusat, dan real time. Berdasarkan hasil pengujian fungsional menggunakan Black Box Testing terhadap 20 skenario pengujian, seluruh fungsi sistem berjalan sesuai dengan kebutuhan fungsional yang telah ditetapkan sehingga memperoleh tingkat keberhasilan sebesar 100%. Selain itu, hasil User Acceptance Test (UAT) menunjukkan bahwa sistem dapat diterima dengan baik oleh pengguna karena mampu mempermudah proses monitoring proyek, mengurangi pencatatan berulang, mempercepat penyusunan laporan, serta meningkatkan kemudahan akses informasi sesuai hak akses masing-masing pengguna. Kontribusi ilmiah penelitian ini adalah menghasilkan model sistem informasi yang mengintegrasikan manajemen progres proyek konstruksi dan manajemen akuntansi dalam satu platform berbasis web menggunakan pendekatan Feature Driven Development (FDD), yang masih relatif terbatas dibahas pada penelitian sebelumnya. Dari sisi praktis, sistem yang dikembangkan membantu AR4N Group meningkatkan efisiensi pengelolaan proyek, mempercepat proses pelaporan, mengurangi risiko kesalahan pencatatan dan duplikasi data, serta menyediakan informasi yang mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat dan akurat. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan sistem dengan menambahkan fitur notifikasi otomatis melalui email atau aplikasi pesan instan untuk mendukung proses monitoring dan persetujuan secara real time, mengintegrasikan layanan perbankan atau payment gateway guna mendukung transaksi keuangan secara langsung, serta mengembangkan fitur analitik dan prediksi progres proyek berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) agar sistem mampu memberikan rekomendasi dalam pengambilan keputusan proyek secara lebih proaktif. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada AR4N GROUP selaku mitra penelitian atas kesempatan, dukungan, serta kerja sama yang diberikan selama pelaksanaan penelitian. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Kusnadi, M.Kom. dan Bapak Agung Supriyadi, S.E., M.Ak. selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, dan motivasi selama penyusunan penelitian ini. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Catur Insan Cendekia dan Universitas Duta Bangsa Surakarta atas dukungan dan fasilitas yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Referensi
[3] D. Tanjung, “Perancangan Aplikasi Manajemen Proyek Sistem Informasi Dalam Pengendalian Proyek Pembangunan Berbasis Web,” vol. 5, no. 1, pp. 77–93, 2024.
[4] M. P. Putri, “Sistem Informasi Manajemen Proyek PT . Samudera Perkasa Konstruksi Berbasis Web,” vol. 20, no. 1, 2020, doi: 10.30812/matrik.v20i1.716.
[5] H. M. Valentine and L. A. K. Thyas, “Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen,” Neptunus J. Ilmu Komput. dan Teknol. Inf., 2024, doi: 10.61132/neptunus.v2i2.340.
[6] E. B. Pramana, A. Hidayatullah, and U. D. Nusantara, “PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MONITORING PROYEK BERBASIS WEB UNTUK MENDUKUNG IMPLEMENTASI,” vol. 2, no. 2, pp. 34–43, 2022.
[7] J. Informasi, D. E. Septian, and E. Hutabri, “Optimasi Sistem Akuntansi Berbasis Web Mengunakan Metode Agile Scrum Studi Kasus PT Segara Catur Perkasa,” vol. 6, no. 1, 2024, doi: 10.60083/jidt.v6i1.476.
[8] I. H. Rasyad, M. D. Irawan, S. Informasi, F. Sains, U. Islam, and N. Sumatera, “IMPLEMENTASI METODE FEATURE DRIVEN DEVELOPMENT PADA SISTEM,” vol. 10, no. 2, pp. 320–328, 2025.
[9] R. R. Al-hakim et al., “Pengembangan Sistem Informasi Bimbingan Konseling Menggunakan Metode Feature-Driven Development *) Corresponding Author,” vol. 16, no. 2, pp. 193–207, 2024.
[10] M. Mustika et al., “TERAPI PADA SISWA INKLUSI MENGGUNAKAN METODE FEATURE DRIVEN DEVELOPMENT ( FDD ) BERBASIS JAVA STUDI KASUS PADA SEKOLAH TANAH TINGAL,” vol. 5, no. 4, pp. 868–884, 2021, doi: 10.52362/jisamar.v5i4.539.
[11] B. Santoso and R. Maulana, “Perancangan Sistem Informasi Akuntansi dan Proyek Konstruksi,” J. Komput. dan Inform., vol. 7, no. 4, pp. 1–10, 2021.
[12] I. H. Rasyad, M. D. Irawan, S. Informasi, F. Sains, U. Islam, and N. Sumatera, “IMPLEMENTASI METODE FEATURE DRIVEN DEVELOPMENT PADA SISTEM,” vol. 10, no. 2, pp. 320–328, 2025.
[13] K. Peffers, T. Tuunanen, M. A. Rothenberger, and S. Chatterjee, "A Design Science Research Methodology for Information Systems Research," Journal of Management Information Systems, vol. 24, no. 3, pp. 45–77, 2007, doi: 10.2753/MIS0742-1222240302.
[14] R. P. De Oliveira et al., “Defining and Validating a Feature-Driven Requirements Engineering Approach,” vol. 20, no. 5, pp. 666–691,2